Manusia diciptakan oleh Tuhan YME sebagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Manusia sebagai makhluk individu memiliki karakteristik dan potensi masing-masing yang membedakannya dengan manusia lain. Sedangkan sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan interaksi dan kerja sama dengan orang lain. Hal ini dilakukan untuk menjaga eksistensi dirinya dan survive dalam hidup.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering dihadapkan pada permasalahan dan kebutuhan yang tidak dapat diselesaikan atau dicukupi sendiri. Seorang petani tidak mungkin melakukan pekerjaannya sendiri, mulai dari menanam bibit hingga menciptakan alat penggiling padi. Ia pasti membutuhkan kerja sama dengan para insinyur dan ahli mesin untuk mendukung usahanya. Demikian pula seorang pedagang beras, penjahit, guru, dokter, tukang pijat, semuanya membutuhkan orang lain dalam kehidupan mereka.
Kodrat manusia untuk bekerja sama dengan orang lain tidak hanya dimulai setelah mereka dewasa, tetapi sudah dimulai sejak manusia berada dalam kandungan sang ibu. Mereka membutuhkan nutrisi dari ibunya, membutuhkan perawatan dan pemeriksaan dokter, membutuhkan bantuan bidan saat kelahiran, begitu pun berlanjut hingga manusia mencapai ajalnya. Memandikan, mengafani, menguburkan, dan mendoakan, semua itu dilakukan oleh orang-orang di sekitar mereka. Intinya, manusia benar-benar tidak dapat hidup tanpa orang lain.
Salah satu contoh kerja sama yang sangat sederhana adalah belajar kelompok. Hal ini biasa dilakukan oleh para pelajar SD, SMP, hingga SMA, bahkan diskusi antarmahasiswa saat kuliah. Belajar kelompok merupakan salah satu cerminan bahwa manusia membutuhkan orang lain dalam kehidupan mereka.
Apa maksudnya?
Belajar kelompok berarti berdiskusi, belajar bersama-sama. Siswa yang pandai mengajari teman-emannya yang belum mengerti tentang suatu mata pelajaran. Disadari atau tidak, belajar kelompok memiliki beberapa manfaat.
Siswa lebih mudah memahami pelajaran. Teman sebaya memiliki kepribadian yang hampir sama, mampu mengerti dan memahami cara belajar teman-temannya. Dengan demikian, teman yang diajari akan lebih mudah memahami suatu materi pelajaran. Inilah yang dinamakan students teach students.
Berikutnya, belajar kelompok dapat mempererat persatuan dan mengikat keakraban serta persahabatan. Belajar kelompok merupakan “nongkrong plus-plus”. Plus manfaat, plus kekompakan, plus kegembiraan.
Namun, tak dapat dipungkiri memang ada beberapa kekurangan dalam belajar kelompok, yakni adakalanya terlalu banyak “bergosip ria”, bercanda hingga lupa tujuan semula. Ini justru menjadikan belajar kelompok “sekadar kumpul” yang tidak membawa manfaat.
Sebenarnya, penyimpangan tujuan belajar kelompok dapat disiasati dengan beberapa cara berikut.
Pertama, fokus dan konsentrasi. Berangkat dari rumah, niatkan dengan ikhlas untuk belajar, bukan untuk lain-lain”. Saat belajar pun, pusatkan perhatian pada materi yang sedang didiskusikan.
Kedua, jalin kearaban dengan anggota kelompok belajar. Satukan hati, kuatkan tekad, dan bulatkan niat untuk bersama-sama mengapai kesuksesan. Jangan ada perasaan benci atau tidak suka yang menyebabkan ketidaknyamanan saat belajar.
Ketiga, perlu ada intermezzo. Sedikit guyonan yang mampu mencairkan suasana. Jangan ciptakan suasana kaku terus-menerus. Berilah nuansa fresh tapi serius. Iuran membeli cemilan atau minuman dapat menambah hangat suasana belajar.
Keempat, cari waktu yang tepat. Jangan terlalu malam karena banyak efek negatif baik efek fisik maupun timbulnya fitnah. Pilih waktu yang pas untuk semua.
Kelima, on time. Inilah kunci kesuksesan. Disiplin waktu. Jangan meremehkan waktu dan janji. Berusaha datang tepat waktu agar tak banyak waktu terbuang. Semua ini berangkat dari kesadaran individu.
Kesimpulannya, jangan takut belajar kelompok dapat merusak konsentrasi. Justru bagi siswa yang menyukai belajar dalam suasana ramai, belajar kelompok akan sangat membantu dalam penguasaan materi. So, belajar kelompok, why not?!
Selengkapnya...
Tuesday, April 13, 2010
BELAJAR KELOMPOK, WHY NOT??!!
Posted by Amalia's Blog at 1:11 AM 0 comments
Labels: MY WORLD
SOLUSI JITU MEMINIMALISASI HAMBATAN DAN DAMPAK NEGATIF PENGGUNAAN DAN PENGEMBANGAN INTERNET BAGI REMAJA DI INDONESIA
Menurut asal katanya, internet adalah adalah singkatan dari Interconnection Networking yang diartikan sebagai sebuah jaringan komputer dalam skala global dan mendunia. Jaringan komputer yang dapat membuat masing-masing komputer saling berkomunikasi.
Saat ini, penggunaan internet sudah bukan hal baru, terutama dalam penyelenggaraan program pendidikan. Bahkan berdasarkan survei yang dilakukan oleh beberapa market research di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia menyimpulkan bahwa sebagian besar pengguna internet berasal dari dunia akademik; yang mengakses internet dari sekolah. Internet memacu dan mendukung siswa untuk berprestasi.
Hambatan
Semua golongan dapat menikmati jasa internet dengan mudah. Mengapa demikian? Seandainya tidak ada internet atau perangkatnya di rumah, para pengguna dapat memanfaatkan jasa warnet yang semakin menjamur di mana-mana. Hal ini akan mudah dan terjadi dengan alami di kawasan kota atau kabupaten. Lantas, bagaimana dengan kawasan di daerah yang masih sulit menjangkau internet? Ironis sekali! Perbedaan geografis di tiap-tiap wilayah juga merupakan hambatan kemerataan penggunaan internet di Indonesia.
Untuk menyediakan fasilias internet khususnya di sekolah, apalagi di rumah, membutuhkan perangkat yang berupa software dan hardware yang tidak murah. Guna mencukupi semua itu, dibutuhkan dana yang besar. Ini akan menjadi hambatan serius bagi pengembangan pembelajaran dengan internet di sekolah.
Ada lagi hambatan yang juga esensial, yakni hambatan secara moral dan personal, salah satunya ialah kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Dapat dibayangkan bila software dan hardware yang dibutuhkan sudah tercukupi, namun justru SDM yang kurang memadai, maka program pengembangan internet di sekolah juga tidak akan berjalan lancar. Sumber Daya Manusia yang belum optimal dapat menjadi hambatan serius pemerataan penggunaan internet di Indonesia.
Memperpendek jarak dan waktu, mempercepat waktu mendapatkan informasi dan wawasan meruakan manfaat internet yang tidak dapat dipungkiri lagi. Namun satu hal yang juga tidak dapat dihindari, yakni: adanya risiko penyalahgunaan internet untuk hal-hal negatif, misalnya pornografi yang secara sembarangan masuk tanpa filter.
Sebuah dilema besar bahkan menghinggapi benak masyarakat. Di satu sisi, penggunaan internet memberikan keuntungan dalam penyampaian informasi sekaligus mempermudah mengembangkan wawasan pengguna. Tanpa menggunakan internet, masyarakat akan statis. Ketinggalan zaman. Tidak mampu berkembang. Namun di sisi lain, dampak negatif internet senantiasa mengancam pengguna internet di seluruh Indonesia.
Bagaimana solusinya?
Sebuah konsep menarik diharapkan mampu menjadi solusi bagi serangkaian hambatan penggunaan internet di Indonesia. Gambaran konsep tersebut dapat dilihat pada bagan berikut.
Untuk meminimalisasi hambatan dan dampak negatif penggunaan dan pengembangan internet, diperlukan kerja sama yang intensif antara pemerintah, guru dan orang tua, serta para pengguna internet. Dengan demikian, akan terjalin simbiosis mutualisme yang harmonis, melalui pengadaan training, kreasi blog, dan lain-lain.
Dengan demikian, pemerintah hendaknya mulai memperhatikan kawasan pedesaan dan pelosok yang belum terjamah internet untuk selanjutnya menyelenggarakan program ”Internet Masuk Desa, Internet Merata di Indonesia”. Akan lebih baik lagi jika pemerintah memberikan internet gratis bagi sekolah-sekolah yang belum mampu menyediakan internet di sekolah. Kesadaran bagi pengguna internet untuk merawat sarana-prasarana internet juga dibutuhkan untuk menjaga kelangsungan penggunaan dan pengembangan internet di Indonesia.
Selengkapnya...
Posted by Amalia's Blog at 1:10 AM 0 comments
Labels: MY WORLD
PERPUSTAKAAN, LAHAN INSPIRASI MASYARAKAT! Profil masyarakat cinta perpustakaan di Kabupaten Tuban, membangun inspirasi dari perpustakaan
I. PENDAHULUAN
Menuju pembangunan nasional. Ya. Itulah yang saat ini tengah dijalani oleh bangsa Indonesia. Untuk mencapai hasil pembangunan yang maksimal, salah satu kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi adalah Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Salah satu upaya meningkatkan kualitas manusia Indonesia adalah melalui perpustakaan.
Sampai saat ini, upaya pemerintah membangun perpustakaan terus digalakkan. Pendirian perpustakaan nasional, perpustakaan daerah, perpustakaan sekolah, bahkan perpustakaan keliling pun ditunjang dengan penambahan koleksi buku, baik jumlah maupun jenisya. Jumlah pengunjung perpustakaan pun mengalami peningkatan.
Suatu contoh, Perpustakaan Umum Kabupaten Tuban yang terletak di Jalan Sunan Kalijaga memiliki koleksi 17.000 eksemplar buku yang terangkum dalam enam ribu judul buku. Jenis bukunya pun beragam, mulai dari karya umum, sastra, fiksi, agama, filsafat, hukum, pertanian, peternakan, ekonomi dan bisnis, politik, hingga koran, majalah, dan bacaan anak-anak, ditambah pula dengan referensi tentang sejarah kota Tuban. Koleksi yang lengkap ini mengundang 100 hingga 150 pengunjung per hari untuk membaca di tempat dan lebih kurang 700-800 peminjam buku per bulan.
Membaca berarti menambah masukan wawasan dan ilmu pengetahuan. Ilmu yang dimiliki, tidak akan berguna jika tidak diaplikasikan dalam kehidupan. Inilah poin penting dari harapan pembangunan perpustakaan. MENJADI LAHAN INSPIRASI. Memang banyak masyarakat cinta membaca, cinta perpustakaan, dan itu adalah hal yang positif. Namun akan lebih baik jika follow up, tindak lanjut, dari membaca itu nampak dalam kehidupan masyarakat sehingga PERAN NYATA perpustakaan dapat dirasakan oleh masyarakat.
II. PERMASALAHAN
Berdasarkan pendahuluan yang telah penulis uraikan, permasalahan yang penulis tonjolkan untuk dibahas adalah tentang peran nyata Perpustakaan Umum Kabupaten Tuban sebagai lahan inspirasi yang mendukung kehidupan masyarakat Tuban.
III. TUJUAN
Tujuan penulisan artikel ini adalah sebagai berikut:
1.Memberikan motivasi pada masyarakat untuk gemar membaca dan mengunjungi perpustakaan.
2.Meningkatkan kegemaran masyarakat akan budaya baca dan mengunjngi perpustakaan.
3.Memberikan sumbangan pemikiran bagi masyarakat Indonesia untuk menjadikan perpustakaan sebagai lahan inspirasi.
4.Memberikan inspirasi bagi masyarakat untuk terus berkarya nyata melalui perpustakaan.
IV. LANDASAN TEORI
Pengertian dan fungsi dasar perpustakaan
Seperti yang tercantum dalam Keputusan Presiden RI nomor 11, disebutkan bahwa “Perpustakaan merupakan salah satu sarana pelestarian bahan pustaka sebagai hasil budaya dan mempunyai fungsi sebagai sumber informasi ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional”(Rohanda:2000).
Dalam artikel berjudul Fungsi dan Peranan Perpustakaan Sekolah (2000), Rohanda juga menyatakan bahwa pengertian perpustakaan mengarah pada tiga hal yang mendasar sekaligus, yaitu hakikat perpustakaan sebagai salah satu sarana pelestarian bahan pustaka; fungsi perpustakaan sebagai sumber informasi ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan; serta tujuan perpustakaan sebagai sarana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan menunjang pembangunan nasional.
V. PEMBAHASAN
Selain sebagai sumber informasi, sebenarnya perpustakaan merupakan lahan iinspirasi yang luas. Dari berbagai pengetahuan yang didapatkan dari perpustakaan, dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga menghasilkan sebuah karya nyata.
Berikut ini beberapa profil masyarakat cinta perpustakaan yang sukses menjadikan perpustakaan sebagai lahan inspirasi.
1.Bapak Heri Kustomo (Guru SMPN 1 Rengel, Kabupaten Tuban)
Bapak Heri Kustomo menjadi anggota Perpustakaan Umum Tuban sejak tahun 2004. Namun karena jarak tempat tinggal dari perpustakaan yang cukup jauh, beliau hanya mengunjungi perpustakaan sebulan sekali. Beliau sering meminjam dan membaca buku-buku tentang sejarah lokal dan nasional, pendidikan, metodologi penelitian, kebahasaan, sastra, dan literatur-literatur tentang karya ilmiah. Kegemaran beliau dalam membaca dan meminjam buku di Perpustakaan Umum Tuban melahirkan inspirasi bagi beliau untuk berkarya dan berprestasi. Berkat adanya Perpustakaan Umum Tuban memudahkan beliau mendapatkan tema, mencari literatur, sehingga beliau berhasil menjadi Enam Penyaji Terpilih dalam Lomba Penulisan Naskah Sejarah Provinsi Jawa Timur. Saat itu, referensi Pertempuran Tuban dan Mataram yang beliau baca dari Perpustakaan Umum Tuban menjadi sumber ide cerita yang beliau tulis. Saat membina siswa, keberadaan Perpustakaan Umum Tuban lagi-lagi banyak membantu beliau sehingga lahirlah karya siswa beliau , yakni karya tulis tentang budaya Maibit. Karya tulis tersebut menjadi juara II dalam Lomba Karya Tulis Bahasa Jawa Se-Kabupaten Tuban. Beliau berhasil menjadikan perpustakaan sebagai lahan inspirasi dalam menulis.
2.Bapak Sakin (Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Tuban)
Tujuh belas tahun pernah bekerja di Perpustakaan Umum Tuban telah membawa Pak Sakin menjadi salah satu tukang pijat andalan sebagai pekerjaan sampingan di Tuban. Apa rahasianya? Bacaan tentang pijat refleksi yang tersedia di Perpustakaan Umum Tuban memberikan tambahan pengetahuan bagi beliau yang akhirnya semakin menambah keterampilan beliau dalam memijat. Beliau pun tergolong sukses menjadikan perpustakaan sebagai lahan inspirasi. Keberadaan perpustakaan berhasil menambah taraf hidup beliau dan mendukung karir beliau.
3.Bapak Nur (Karang Indah, Tuban)
Bapak Nur memang tidak memulai usaha dari buku yang beliau baca. Namun beliau pun temasuk orang yang membangun inspirasi dan motivasi diri dari perpustakaan. Saah satu buku yang gemar beliau baca adalah buku-buku keagamaan. Setelah membaca buku-buku itu, beliau mengaku mendapatkan motivasi, pengetahuan tambahan tentang agama, misalnya pengetahuan tentang salat. Selanjutnya, beliau menerapkan pengetahuan yang didapatkan dan berbagi ilmu dengan orang lain. Inilah contoh kesuksesan perpustakaan membentuk kepribadian positif masyarakat.
4.Bapak Yahri (Perum Tuban Akbar)
Sebagai seorang yang bekerja di pelabuhan bongkar-muat barang, kebutuhan akan berita-berita aktual dari koran selalu beliau penuhi. Bapak Yahri senantiasa meluangkan waktu tiga kali dalam seminggu untuk mengunjungi Perpustakaan Umum Tuban dan membaca koran di sana. Hasilnya, banyak sekali berita yang beliau dapatkan, misalnya: tentang perubahan Undang Undang, kebijakan pemerintah, harga komoditas barang, dan beberapa informasi penting yang menunjang pekerjaan beliau sehari-hari. Keberadaan perpustakaan memiliki peran nyata bagi Bapak Yahri.
5.Bapak Afandi (Jalan Pahlawan 29, Tuban)
Membaca dan meminjam buku. Itulah aktivitas yang biasanya dilakukan Bapak Afandi untuk memanfaatkan fasilitas Perpustakaan Umum Tuban. Tidak tanggung-tanggung, seminggu sekali beliau meluangkan waktu untuk menambah pengetahuan, baik pengetahuan umum, berita dari koran dan majalah, bahkan sekadar membaca novel. Menurut pengakuan Bapak Afandi, keberadaan perpustakaan pun telah melahirkan sebuah inspirasi, ide cemerlang bagi beliau. Pernah membaca tentang peternakan membuat beliau mencoba memelihara burung perkutut yang saat ini sedang dalam proses perawatan. Berbagai pengetahuan tentang pakan, cara perawatan, dan hal-hal lain membuat beliau tetap eksis memelihara burung perkutut. Semua itu tentu berawal dari perpustakaan.
Profil lima orang tersebut tentu merupakan sebuah bukti bahwa selama ini, ternyata pengunjung tidak sekadar meminjam, membaca, lalu mengembalikan buku yang mereka baca. Banyak juga dari mereka yang melakukan tindak lanjut, aksi nyata, aplikasi pengetahuan yang mereka dapatkan.
Inilah yang sesungguhnya diharapkan oleh pemerintah dengan adanya pembangunan perpustakaan. Terjadi masukan ilmu pengetahuan dan peningkatan kualitas diri, inspirasi melakukan real action, yang selanjutnya mendatangkan karya dan prestasi untuk meningkatkan taraf hidup dan melaksanakan pembangunan nasional Indonesia. Jika ini sudah dilakukan satu orang, tentu akan menginspirasi orang lain untuk selanjutnya masyarakat berbondong-bondong mengunjungi perpustakaan dengan harapan mendapatkan inspirasi berkarya menjemput kesuksesan. Perhatikan bagan berikut!
Bagan Perpustakaan Sebagai Sumber Inspirasi
VI. KESIMPULAN
Dari uraian tentang profil masyarakat cinta perpustakaan dan pembahasannya, dapat disimpulkan bahwa perpustakaan dapat berperan nyata sebagai lahan inspirasi bagi para pengunjung, pembaca, dan peminjam buku.Itulah wujud dan hakikat perpustakaan sebagai lahan inspirasi, pengembangan dari fungsi dasar perpustakaan.
VII. SARAN
1.Pemerintah perlu membangun perpustakaan di wilayah kecamatan dan desa agar kendala jarak tidak lagi menjadi hambatan masyarakat untuk membaca.
2.Masyarakat hendaknya meningkatkan kesadaran untuk membaca dan berkunjung ke perpustakaan, di samping itu juga kesadaran untuk menjaga ketertiban, kebersihan, serta kerapian, contoh: kesadaran mengembalikan buku, majalah, serta koran ke tempat yang sesuai.
PUSTAKA
Firmansyah, Herlan. 2009. Pembangunan Ekonomi. Diakses pada 13 September 2009 dari http://erlan-abuhanifa.blogspot.com
Putera, Prakoso Bhairawa. 2009. Minat Baca Masyarakat. Diakses pada 13 September dari http://www.unsri.ac.id
Rohanda. 2000. Fungsi dan Peranan Perpustakaan Sekolah (Disampaikan dalam rangka seminar sehari Ikatan Pustakawan Indonesia Pustakawan dan Guru, tanggal 16 September 2000)
Selengkapnya...
Posted by Amalia's Blog at 1:08 AM 0 comments
Labels: MY WORLD
MENUJU MASA DEPAN AGROINDUSTRI JAGUNG INDONESIA
Jagung di Indonesia
Indonesia merupakan negara agraris. Lebih dari 60% penduduk Indonesia menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian. Berbagai tanaman dikembangkan di Indonesia, baik tanaman pangan seperti: padi, jagung, kedelai dan kacang-kacangan, ubi-ubian, maupun berbagai jenis tanaman holtikultura. Hasil pertanian tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri serta sebagai salah satu komoditas ekspor. Melimpahnya hasil pertanian Indonesia membuat Indonesia pernah menjadi negara berswasembada beras. Gelar tersebut diberikan oleh Food and Agriculture Organization (FAO) pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
Dewasa ini, seiring dengan berjalannya waktu yang diimbangi dengan pertambahan jumlah penduduk, menggantungkan hidup pada salah satu jenis makanan pokok dirasakan kurang tepat lagi. Seorang pakar mengatakan bahwa saat ini pertambahan jumlah penduduk sesuai dengan deret ukur (2,4,8,16, dan seterusnya), namun pertambahan jumlah tanaman pangan hanya berdasarkan deret hitung (1,2,3,4, dan seterusnya). Ini merupakan salah satu masalah serius bagi bangsa Indonesia.
Sebagai salah satu tanaman yang “satu suku” dengan padi, jagung (Zea mays) termasuk bahan makanan pokok andalan Indonesia dengan kandungan gizi yang sebanding dengan beras. Di beberapa daerah seperti: Madura, Nusa Tenggara, dan Sulawesi, jagung bahkan menjadi bahan makanan pokok.
Produk hasil pengolahan jagung tidak hanya dimanfaatkan sebagai bahan pangan pokok. Jagung juga turut menjadi kebutuhan utama dalam peternakan, khususnya peternakan ayam. Porsi jagung pada pakan ayam mencapai 50% hingga 60%. Berkat kemajuan teknologi dan perkembangan selera masyarakat, jagung bahkan sudah “merambah” perindustrian baik itu industri minuman, makanan ringan seperti pop corn, hingga industri pembuatan biofuel atau bahan bakar biologis. Kebutuhan akan jagung yang meningkat pesat ini memberikan tantangan bagi Indonesia untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas tanaman jagung.
Sebenarnya, tidak sulit bagi Indonesia untuk mengembangkan jagung sebagai basis agroindustri Indonesia. Mengapa demikian? Indonesia masih memiliki banyak lahan pertanian, terutama di luar Jawa, yang memungkinkan untuk diolah dan dikembangkan menjadi lahan pertanian jagung.
Berdasarkan data dari Departemen Pertanian Republik Indonesia, provinsi yang menjadi sentra jagung di Indonesia adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, sebagian Sumatera Barat, Sumatera Utara, Lampung, Sulawesi Selatan, Gorontalo, dan Sulawesi Utara. Produktivitas jagung di Jawa Barat dan Sumatera Barat mencapai lebih dari 50 kuintal per hektar. Sedangkan produktivitas jagung di atas 40 kuintal per hektar terjadi di delapan provinsi, yaitu Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Gorontalo, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan. Perkiraan luas panen jagung di provinsi sentra pada periode Januari hingga April 2009 mencapai 2.293.799 hektar, dan perkiraan produksi jagung di provinsi sentra periode yang sama mencapai 9.009.586 ton. Pada tahun 2009, Deptan memperkirakan total produksi jagung di Indonesia diharapkan mencapai 18 juta ton.
Pengembangan Agroindustri Jagung di Indonesia
Ada berbagai upaya untuk merealisasikan mimpi Indonesia tentang peningkatan kualitas dan kuantitas tanaman jagung. Mengembangkan agroindustri jagung untuk menciptakan stabilitas pangan nasional dan stabilitas perekonomian bangsa.
1.Diversifikasi, intensifikasi, ekstensifikasi, dan rehabilitasi pertanian jagung
Diversifikasi pertanian adalah upaya mengarahkan agroindustri jagung dengan optimalisasi pemanfaatan sumber daya dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan dan sumber daya tersebut. Diversifikasi juga bertujuan memperluas spektrum pembangunan pertanian dalam rangka pengembangan sistem agroindustri.
Intensifikasi pertanian merupakan usaha peningkatan produktivitas tenaga kerja dan sumber daya alam serta upaya peningkatan keunggulan daya saing dengan efisiensi penerapan IPTEK dan sarana produksi. Sedangkan Fatchurrozi dalam artikelnya yang berjudul Intensifikasi dan Ekstensifikasi Pertanian Perspektif Islam menyebutkan bahwa intensifikasi pertanian ialah peningkatan produksi pertanian dengan optimalisasi pemakaian obat-obatan, penyebarluasan teknik-teknik modern di kalangan para petani dan membantu pengadaan benih serta budidayanya. Terkait hal tersebut, Badan Penelitian Tanaman Serealia (Balitsereal) telah mengadakan berbagai penelitian dan menghasilkan jagung bervarietas unggul. Pengembangan varietas komposit yang toleran lahan masam seperti Sukmaraga dan tahan kekeringan seperti Lamuru dan Anoman-1. Ketiga varietas ini mempunyai potensi hasil 8,0 ton per hektar.
Data dari tabloid Sinar Tani menyebutkan bahwa sampai saat ini, Balitsereal telah melepas varietas hibrida sebanyak enam varietas yang parenstoknya tersedia di Balitsereal. Keenam varietas ini mempunyai potensi hasil yang cukup tinggi dengan harga relatif lebih rendah. Varietas Bima-2 Bantimurung, Bima-3Bantimurung, Bima-4, Bima-5, dan Bima-6 telah dilesensikan ke perusahaan swasta dalam negeri, sedangkan Bima-1 bekerja sama dengan kelompok tani atau pemda.
Dalam hal pemupukan, saat ini pemupukan urea pada tingkat petani di beberapa tempat seperti di Gowa dan Takalar (Sulawesi Selatan) dan Kediri (Jawa Timur) sudah berlebih dan tidak efisien lagi, yaitu sekitar 750 kg per hektar. Balitsereal telah mengembangkan metode pemupukan N (urea) yang dapat menghemat 30 - 50% pupuk urea serta mudah diterapkan petani, yaitu penggunaan Bagan Warna Daun (BWD).
Prinsip penggunaan BWD adalah memberi nilai skala 2-5 dari penampilan warna kuning-hijaunya daun tanaman.
Berbagai upaya ini masih perlu ditingkatkan seiring dengan cita-cita Indonesia menciptakan stabilitas pangan nasional melalui jagung. Intensifikasi pertanian secara maksimal tidak hanya akan meningkatkan jumlah panen jagung, melainkan juga memperbaiki mutu hasil panen tersebut.
Ekstensifikasi pertanian dilakukan melalui peningkatan luas areal tanam atau luas lahan agroindustri. Sedangkan rehabilitasi sumber daya pertanian diarahkan untuk memulihkan produktivitas sumber daya alam dan prasarana pertanian.
Secara teori, keempat upaya tersebut bukan hal baru bagi kalangan petani Indonesia. Hanya saja, masih perlu dioptimalkan lagi dalam aplikasinya.
2.Inovasi produk baru hasil pengolahan jagung
Kalau belasan tahun yang lalu masyarakat Indonesia hanya mengenal nasi jagung, jagung rebus, jagung bakar, dan berondong jagung sederhana, tidak demikian halnya sekarang. Perkembangan globalisasi yang didukung berbagai hasil penelitian tentang kandungan gizi yang terdapat dalam jagung membangkitkan “greget” penduduk untuk menciptakan inovasi baru produk hasil pertanian tanaman jagung. Pop corn yang kerap dinikmati sambil menonton film merupakan salah satu inovasi pengolahan produk jagung, pengembangan dari berondong jagung sederhana. Bahkan saat ini juga telah diciptakan produk baru yaitu mi jagung. Hampir sama dengan mi dari tepung terigu, mi jagung justru tidak perlu menggunakan zat pewarna sehingga keamanan konsumsinya terjaga. Akankah ditemui susu jagung atau bakso jagung???
Salah satu manfaat inovasi produk baru hasil pengolahan jagung adalah meningkatkan harga jual jagung, yang pada akhirnya meningkatkan pendapatan penduduk.
3.Pengembangan bioteknologi dalam agroindustri jagung
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya dalam bidang sains menuntun masyarakat dunia menuju kehidupan yang lebih mudah dan lebih praktis dalam berbagai bidang, salah satunya dalam bidang pertanian. Ditemukannya teknologi rekayasa genetika sebagai salah satu cabang bioteknologi dalam bidang pertanian, ternyata mampu menghasilkan berbagai peningkatan. Pengadaan benih seperti yang sudah disampaikan, juga berkat adanya teknik rekayasa genetika.
Jagung RR adalah salah satu varietas jagung hasil bioteknologi. Jagung RR (Roundup Ready) adalah jagung hibrida yang
bersifat toleran terhadap herbisida glyphosate. Teknologi ini mempermudah pengendalian gulma
sehingga mengurangi biaya pengolahan lahan. Ada pula jagung berprotein tinggi (QPM), yakni jagung yang memiliki kandungan asam amino lisin dan triptofan lebih tinggi dibandingkan jagung biasa. Asam amino lisin dan triptofan sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan otak balita. Balitsereal telah melepas dua varietas yang kandungan asam aminonya dua kali lebih tinggi dibanding jagung biasa, yaitu: Srikandi Putih-1 dan Srikandi Kuning-1.
Salah satu tantangan yang dihadapi dalam bioteknologi pertanian adalah adanya kemungkinan terdapat zat penyebab alergi dalam tanaman tersebut.
4.Kesejahteraan petani jagung
Peningkatan kualitas dan kuantitas produksi tanaman jagung tentu tiada artinya jika tidak dibarengi dengan upaya peningkatan kesejahteraan petani jagung. Hal ini bisa dimulai dengan menyeimbangkan harga jagung dari petani, distributor, hingga sampai ke tangan konsumen. Pemerintah memegang peran penting dalam pengendalian harga ini. Pengadaan subsidi pertanian juga perlu dilakukan untuk membantu petani memaksimalkan usahanya.
Sebenarnya, ada lembaga atau badan yang selayaknya dapat membantu petani. Lembaga tersebut adalah koperasi petani. Bantuan diberikan dalam wujud modal awal serta pembelian bibit, pupuk, dan obat pemberantas hama dengan harga yang lebih murah di koperasi. Di samping itu, koperasi dapat menjadi “distributor terpercaya” atas hasil panen jagung. Melalui koperasi, kesejahteraan petani jagung akan meningkat. Pembangunan koperasi ini memerlukan kerja sama antara pemerintah, petani, dan masyarakat umumnya. Meningkatnya kesejahteraan petani tentu akan meningkatkan pendapatan nasional Indonesia.
Upaya pengembangan agroindustri tersebut dapat dilihat pada bagan berikut.
BAGAN
UPAYA PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI JAGUNG
DI INDONESIA
Tidak hanya sebagai bahan pangan pokok guna menjaga stabilitas pangan nasional, jagung juga diharapkan menjadi agen agroindustri yang mampu menjaga stabilitas perekonomian bangsa.
Jagungmu, jagungku, jagung Indonesia!
‘Kutulis dengan hatiku untuk pertanian Indonesia
PUSTAKA
. . Inovasi Teknologi Jagung—Kunci Peningkatan Efisiensi Usaha Tani, Kualitas Hasil, dan Diversifikasi Pangan. Diakses pada 22 Oktober 2009 dari http://www.sinartani.com
. . Permintaan Jagung Sangat Dinamis, Polanya Berubah. Diakses pada 22 Oktober 2009 dari http://www.sinartani.com
. . Pertanian. Diakses pada 22 Oktober 2009 dari http://www.jawatengah.go.id
. 2008. Mengandalkan Hibrida-Menggapai Transgenik. Diakses pada 22 Oktober 2009 dari http://www.agrina-online.com
. 2008. Pasokan Jagung Untuk Pakan Ternak Aman. Diakses pada 22 Oktober 2009 dari http://gopanindonesia.com
. 2009. Perkiraan Ketersediaan Jagung 2009. Diakses pada 22 Oktober 2009 dari http://www.poultryindonesia.com
Fatchurrozi. 2008. Intensifikasi dan Ekstensifikasi Pertanian Perspektif Islam. Diakses pada 22 Oktober 2009 dari Google search
Kristanto, Adhi . . Teknologi Pasapanen Untuk Peningkatan Mutu Jagung. Diakses pada 22 Oktober 2009 dari http://www.tanindo.com
Mangdesk. 2009. Tugas Budidaya Jagung dan Sorgum. Diakses pada 22 Oktober 2009 dari http://www.blogcatalog.com
Siagian, Bezalel. 2009. Masalah Pangan Transgenik di Indonesia. Diakses pada 22 Oktober 2009 dari http://hariansib.com
Webmaster. 2008. Produktivitas Meningkat, Indonesia Siap Jadi Net-Eksportir Jagung. Diakses pada 22 Oktober 2009 dari http://antonapriyantono.com
Selengkapnya...
Posted by Amalia's Blog at 1:06 AM 0 comments
Labels: MY WORLD
MENJAWAB TANTANGAN, MENCIPTAKAN GENERASI BERPOTENSI TANPA ASAP ROKOK
Generasi muda merupakan aset Indonesia yang sangat berharga untuk melaksanakan pembangunan nasional. Mengapa demikian? Generasi muda memiliki berbagai potensi, kreativitas, produktivitas, energi positif yang meluap-luap, kelincahan, dan ide-ide cemerlang, serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai kemajuan zaman. Apa bila semua potensi tersebut diarahkan pada kegiatan yang benar dan bermanfaat untuk pengembangan soft skill yang dimilikinya, maka Indonesia tidak perlu takut tergerus dan tertinggal perkembangan globalisasi.
A.GENERASI BERPOTENSI, PEROKOK?
Tak dapat dipungkiri, arus globalisasi membawa dampak negatif yang merusak moral dan mematikan potensi generasi muda Indonesia. Penyalahgunaan narkotika, alkohol, pergaulan bebas, dan rokok mencetak generasi muda yang konsumtif, hedonis, egois terhadap lingkungan, mengakibatkan mereka tidak menyadari bahwa dirinya adalah aset yang sangat berharga untuk negara. Salah satu bahaya laten berbahaya namun justru banyak dilakoni oleh generasi muda Indonesia adalah merokok.
Apa buktinya?
Berdasarkan hasil survei BPS, jumlah perokok pemula (5-9 tahun) meningkat 400% yakni dari 0,8% (2001) menjadi 1,8% (2004) dari keseluruhan anak usia 5-9 tahun. Dalam periode yang sama, terjadi pula peningkatan jumlah perokok usia 10-14 tahun sebesar 21%, yakni dari 9,5% menjadi 11,5% dari jumlah anak dalam rentang usia tersebut. Peningkatan jumlah perokok juga terjadi pada kelompok usia 15-19 tahun, yakni dari 58,9% menjadi 63,9% dari jumlah anak dalam rentang usia itu. Sungguh kondisi yang memprihatinkan!
Rokok hanya memberikan kenikmatan sesaat. Mungkin ketegangan dan stres yang dirasakan bisa menghilang sekejap, namun dampak negatif yang ditimbulkan akan bertahun-tahun lamanya mengancam kehidupan generasi muda itu sendiri. Kanker, penyakit jantung, impotensi, gangguan organ dalam, kerusakan sistem saraf, semua itu merupakan konsekuensi dari setiap batang rokok yang dihisap dan asap yang dikepulkan. Racun-racun dalam rokok akan menumpuk di dalam tubuh “penggemarnya” dan lambat laun merusak sel demi sel tubuh itu. Tidak hanya berbahaya bagi perokok aktif, rokok juga turut mengancam perokok pasif. Melihat kerugian rokok bagi diri sendiri dan orang lain, tidak salah jika Islam memberikan gelar hukum makruh bahkan ada beberapa pendapat yang menyatakan haram terhadap aktivitas merokok.
B.MENCIPTAKAN GENERASI BERPOTENSI TANPA ASAP ROKOK
Rokok mematikan potensi generasi muda. Namun pada dasarnya, potensi yang dimiliki generasi muda justru dapat dijadikan sebagai sebuah solusi untuk menangkal bahaya rokok.
Bagaimana caranya?
Berikut ini tiga solusi yang dapat diterapkan untuk menyelamatkan generasi muda dari bahaya rokok, menciptakan generasi berpotensi tanpa asap rokok dengan memanfaatkan potensi yang mereka miliki, ditunjang peran beberapa pihak. Ketiga solusi yang telah djelaskan tersebut terangkum dalam bagan berikut.
Bagan Solusi Menangkal Bahaya Rokok Bagi Generasi Muda Indonesia, Menciptakan Generasi Berpotensi Tanpa Asap Rokok
1.Optimalisasi “Potensi vs Rokok”
Generasi muda Indonesia kaya potensi dan semangat serta ide kreatif. Semua itu dapat dioptimalkan melalui kegiatan “Potensi vs Rokok”. Adapun ragam kegiatannya, antara lain: pementasan teater atau drama antirokok, Gerakan Remaja Antirokok, sosialisasi bahaya rokok dengan tutor sebaya, berbagai lomba (karya tulis, penulisan esai, artikel, desain poster, dan lain-lain) tentang bahaya rokok, dan aneka kegiatan menarik lain. Semua kegiatan tersebut memiliki dua manfaat sekaligus. Pertama, memberikan pengetahuan kepada generasi muda tentang bahaya rokok. Kedua, mengembangkan potensi generasi muda dalam berbagai bidang, yakni: potensi atau bakat kesenian, pengalaman berorganisasi, melatih kemampuan public speaking, mengembangkan kreativitas, dan manfaat-manfaat lain. Satu hal yang terpenting, melalui kegiatan kreatif, pesan akan lebih cepat tersampaikan.
2.Optimalisasi Peran Orang Tua
Dalam hal ini, orang tua berperan dalam menciptakan suasana yang harmonis di lingkungan keluarga sehingga generasi muda (anak) tidak mudah stres saat menghadapi permasalahan. Kedekatan dan keharmonisan keluarga menentukan karakter dan masa depan generasi muda. Satu hal lagi, orang tua harus memberikan teladan kepada anak dengan tidak merokok. Mottonya,”Kalau ingin yang muda tidak merokok, mengapa yang tua justru mengawali dan mengajari merokok?”
3.Optimalisasi Dukungan Pemerintah dan Swasta
Penayangan iklan rokok saat malam hari di atas pukul 22.00 cukup membantu menghindarkan generasi muda dari iming-iming keasyikan merokok. Peringatan yang ada dalam tiap-tiap bungkus rokok juga menjadi peringatan penting bagi generasi muda. Dalam upaya melepaskan generasi muda dari jeratan rokok, pemerintah dapat bertindak semaksimal-maksimalnya sebagai fasilitator dan pengawas, bekerja sama dengan pihak swasta untuk memfasilitasi dan memberikan kemudahan untuk kegiatan sosialisasi antirokok dan pengembangan potensi generasi muda. Pemerintah juga mengawasi, bahkan lebih baik membatasi jumlah produk rokok yang masuk ke Indonesia. Semua tindakan pemerintah tersebut tidak lain untuk kemajuan bangsa Indonesia sendiri.
Kerja sama berbagai pihak terkait sangat dibutuhkan untuk menangkal bahaya rokok dan menciptakan generasi muda berpotensi tanpa asap rokok.
GENERASI MUDA INDONESIA, BERPOTENSI!
GENERASI MUDA INDONESIA, BEBAS, TANPA ASAP ROKOK!
MATIKAN ROKOK ATAU ROKOK AKAN MEMATIKAN ANDA!
PUSTAKA
Nuryati, Siti. 2008. Hampir 90% Wanita Muda Indonesia Perokok. Diakses pada 27 Juli 2009 dari http://ayah-ucha.blogspot.com
Selengkapnya...
Posted by Amalia's Blog at 1:04 AM 0 comments
Labels: MY WORLD
STRATEGI MENGEFEKTIFKAN PERPUSTAKAAN
Berbicara tentang tuntutan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, tentu tak lepas dari buku dan minat baca. Buku merupakan gudang ilmu, jendela dunia sebab melalui bukulah ilmu pengetahuan menyebar. Adanya buku sebagai sumber belajar tentu tak lepas pula dari peran perpustakaan sebagai pusat belajar masyarakat.
Secara sederhana, perpustakaan berarti tempat berkumpulnya buku-buku, tempat meminjam buku, atau tempat membaca buku. Di Indonesia, perpustakaan sudah bukan hal asing karena hampir di semua tempat sudah dibangun perpustakaan. Bahkan ada beberapa orang yang memiliki perpustakaan pribadi di tempat tinggalnya. Perpustakaan sekolah wajib ada di tiap-tiap sekolah, perpustakaan kota, perpustakaan daerah, bahkan perpustakaan keliling pun mulai marak dijumpai. Semua itu bertujuan menambah pengetahuan masyarakat guna meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) manusia Indonesia melalui perpustakaan sebagai pusat sumber belajar.
Saat ini, perpustakaan tumbuh dan berkembang dengan pesat. Seperti contoh, koleksi majalah dan buku di Perpustakaan Umum Kabupaten Tuban memenuhi dua lantai bangunan perpustakaan itu. Pelayanan berbasis teknologi informasi kepada pembaca di beberapa perpustakaan umum dan sekolah memudahkan pembaca saat hendak meminjam buku maupun mendaftarkan diri menjadi anggota tetap perpustakaan tersebut.
Namun tak dapat dipungkiri, para remaja, para pelajar Indonesia dewasa ini memang lebih menyukai internet sebagai tempat memperoleh informasi yang dibutuhkan. Suatu contoh, saat mendapatkan tugas sekolah, sebagian pelajar segera menuju ke warnet atau membuka laptop dan menyalakan wifi untuk membuka Google Search. Jarang sekali siswa yang langsung menuju perpustakaan, melihat daftar buku lalu membaca buku tersebut. Padahal, perpustakaan memiliki beberapa kelebihan dibandingkan internet, antara lain:
1.secara umum, perpustakaan memiliki bacaan yang lebih aman bagi pembacanya, tidak ada pornografi ataupun bacaan yang “menyesatkan” pembaca sebab perpustakaan dikelola oleh pemerintah yang bertujuan untuk pendidikan,
2.informasi dalam buku jauh lebih lengkap daripada potongan-potongan artikel di internet, dengan demikian ilmu yang bisa didapatkan pembaca lebih banyak,
3.tidak menyebabkan kelelahan mata karena terlalu sering berhadapan dengan layar komputer saat mengakses internet,
4.perpustakaan membantu menangkal dan menanggulangi dampak negatif penyalahgunaan internet.
Oleh karena itu, upaya-upaya mengefektifkan perpustakaan agar senantiasa mendapatkan tempat di hati masyarakat sangat perlu dilakukan.
Ada tiga strategi yang dapat dilakukan untuk mengefektifkan perpustakaan, yakni sebagai berikut.
1.Modernisasi ruangan dan penataan ruang baca yang menarik.
Hal ini bisa diartikan dengan adanya ruang perpustakaan yang terang (cukup cahaya) dihiasi dengan poster atau ucapan motivasi untuk meningkatkan semangat membaca dan belajar, ruangan yang sejuk (tidak dingin), tenang sehingga membuat pembaca dapat berkonsentrasi. Membuat pembaca betah di ruangan perpustakaan merupakan langkah awal mengefektifkan perpustakaan.
2.Kerja sama sekolah dengan perpustakaan.
Melalui tugas dan soal-soal ulangan yang menuntut siswa membaca buku di perpustakaan, dapat menjadi sebuah kerja sama yang efektif antara sekolah dengan perpustakaan atau antara guru dengan perpustakaan sekolah. Dengan demikian, secara tidak langsung siswa akan terbiasa menjadikan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar.
3.Sosialisasi dan kunjungan ke perpustakaan setempat (rekreasi pustaka), membantu memperkenalkan perpustakaan pada masyarakat.
Kerja sama berbagai pihak terkait sangat dibutuhkan untuk kembali mengefektifkan perpustakaan.
HIDUP PERPUSTAKAAAN INDONESIA!
‘Kutulis dengan hatiku untuk perpustakaanku
Selengkapnya...
Posted by Amalia's Blog at 12:59 AM 0 comments
Labels: MY WORLD
DARI AQ, KEPADA PARA PEMIMPIN BANGSA..
...
Tuhan, berikan aku hidup satu kali lagi
Hanya untuk bersamanya
‘Ku mencintainya, sungguh mencintainya
Rasa ini sungguh tak wajar
Namun ‘ku ingin tetap bersama dia
Untuk selamanya…
Bukan hanya The Virgin yang melantunkan lagu indah itu. Justru nyanyian itu kerap keluar dari mulut polos anak usia Sekolah Dasar (SD) yang berdiri di antara para penumpang bus, menggoyangkan tutup botol atau memetik gitar butut sambil bernyanyi dengan nada yang tidak karuan. Setelah itu mereka menyodorkan kantong plastik lusuh ke hadapan penumpang. Setelah recehan demi recehan singgah ke kantong mereka, mereka turun dari bus dengan riang.
Inikah Kemerdekaan yang Utuh?
Kemerdekaan berarti kebebasan; kebebasan yang bertanggung jawab. Kemerdekaan dalam melaksanakan kewajiban, kemerdekaan untuk memperoleh hak.
Hak belajar, mendapatkan pendidikan dan kesehatan yang layak, hak bermain dan mengembangkan diri, hak bersosialisasi dengan teman dan lingkungan, hak hidup dengan mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya, hak kebebasan dari kekerasan dan diskriminasi. Inilah hak anak. Hal ini dijamin dalam Pasal 28B ayat 2 Undang Undang Dasar 1945, yang berbunyi sebagai berikut.
Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
Lebih rinci lagi, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak memerintahkan kepada negara untuk melindungi anak dengan prinsip nondiskriminasi, kepentingan terbaik bagi anak, hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan, serta penghargaan terhadap pendapat anak.
Meskipun sudah ada dasar yang jelas tentang hak anak Indonesia, namun dalam pelaksanaannya masih sangat membutuhkan perhatian yang serius. Alasan ekonomi menjadikan para orang tua “buta” akan permasalahan dan pemenuhan hak anak. Anak yang seharusnya menikmati masa belajar dan bermain, sudah dipaksa bekerja keras membantu orang tua. Menjadi pengamen jalanan, atau bahkan peminta-minta. Kadang pekerjaan yang dibebankan tidak sesuai dengan kemampuan mereka, misalnya menjadi kuli panggul ataupun pekerja seksual. Ironis sekali, mengingat bangsa Indonesia telah 64 tahun menapaki kemerdekaan, mengisinya dengan pembangunan, namun justru kemerdekaan anak Indonesia masih dipertanyakan!
Eksploitasi ekonomi oleh oknum orang tua yang tidak bertanggung jawab atau oleh bandar pengamen jalanan melahirkan anak Indonesia yang “bermental tempe”, bermental peminta-minta. Berbagai tindakan pun dilakukan sang anak untuk mendapatkan uang, mulai dari mengamen, mencopet, menodong, bahkan merampok. Anak-anak jalanan yang kehilangan hak, membentuk kelompok-kelompok perusuh di masyarakat, menyikat apa pun yang ada demi materi yang mereka cari.
Masalah eksploitasi tenaga anak belum terselesaikan, lalu muncul masalah baru lagi yakni kekerasan. Secara tidak langsung, tindak kekerasan yang diterima anak merupakan follow up dari eksploitasi ekonomi. Prinsip “Tak ada uang tak ada makan, tak ada uang pukulan bersarang” membuat anak seolah-olah trauma dan takut pulang jika tidak membawa “oleh-oleh”. Mirisnya, para orang tua materialis itu dengan santai mendaratkan pukulan dan tamparan ke pipi anak kandung mereka! Apa akibatnya?
Hubungan anak dan orang tua kian renggang. Hak anak mendapatkan kasih sayang dari orang tua, sirna sudah. Masa kecil yang sehrusnya indah, menjadi suram dan membunuh benih-benih asa di hati mutiara bangsa. Siapa yang salah?
Masalah pun berlanjut, pendidikan dan kesehatan anak Indonesia terabaikan. Apa buktinya? Berdasarkan data pada tahun 2007, anak usia 5-14 tahun berjumlah sekitar 45 juta anak yang hampir 60% tinggal di pedesaan. Ternyata baru 84.1% yang saat itu masih bersekolah, 12.8% belum bersekolah dan 3% tidak bersekolah lagi. Kemungkinan besar anak 5-14 tahun yang belum pernah sekolah sama sekali karena alasan umur anak yang belum bisa ke sekolah, menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) ada sekitar 71.4%. Sedangkan anak yang tidak bersekolah lagi kebanyakan karena orangtua mereka tidak mampu membiayai sekolah (55.7%). Inilah alasan yang umum terjadi di dunia pendidikan, ada sebagian rumah tangga yang anaknya tidak bersekolah lagi karena tidak mampu membiayai pendidikan, dan kebanyakan ini terjadi di daerah pedesaan (75%). Sedangkan anak 5-14 yang bisa membaca dan menulis huruf latin sekitar 80.2%, lebih rendah dibanding anak yang masih bersekolah, artinya memang ada siswa yang saat ini belum bisa baca tetapi bisa masuk ke sekolah, kemungkinan besar anak kelas 1 SD.
Berbicara tentang kesehatan, anak usia 5-14 tahun yang menderita sakit sekitar 23.8%, 60% sakit cukup parah dan mengganggu aktivitas sekolah dan lainnya. Anak di daerah pedesaan ternyata lebih mudah sakit dibandingkan anak di perkotaan, hal ini menunjukan bahwa lingkungan dan fasilitas kesehatan juga mempengaruhi kondisi kesehatan terutama bagi anak. Anak-anak ini hampir 75% tidak mendapatkan jaminan biaya kesehatan baik oleh kartu sehat, kartu miskin, Dana Sehat atau pembiayaan dari luar, sehingga jika mereka sakit maka orang tua yang harus membiayai pengobatan mereka. Kemampuan ekonomi sebagian rumah tangga yang kurang membuat anak-anak hanya mendapatkan akses kesehatan yang minim sekali.
. Ini menunjukkan bahwa asas pemerataan pendidikan dan kesehatan terutama bagi anak golongan ekonomi menengah ke bawah masih sangat memprihatinkan. Perhatikan saja sekeliling, bagaimana mungkin anak Indonesia sempat sekolah, jika mereka masih dipaksa bekerja di luar batas kemanunsiaan? Bagaimana mungkin kesehatan anak Indonesia diperhatikan jika para orang tua yang tidak bertanggung jawab itu hanya memperhatikan penghasilan dan mengabaikan anak?
Pada akhirnya, berbagai problematika yang menimpa anak Indonesia akan membentuk kepribadian mereka. Melihat akar permasalahan yang telah diuraikan sebelumnya dan dibuktikan dengan kondisi riil saat ini, dapat dikatakan bahwa anak Indonesia tengah mengalami krisis moral. Krisis saat inilah yang menjadi bahaya laten bangsa Indonesia sebab krisis ini dialami oleh anak Indonesia yang merupakan aset dan harapan bangsa Indonesia di masa depan. Masuknya arus negatif globalisasi yang didukung oleh perkembangan teknologi serta akses informasi, membawa pengaruh bagi perkembangan anak Indonesia, terutama masalah moral dan etika, “unggah-ungguh”. Pengaruh ini menyentuh berbagai lapisan anak Indonesia, baik golongan ekonomi lemah, menengah, maupun golongan ekonomi atas. Suatu contoh, mudahnya akses informasi via internet memudahkan anak Indonesia menyaksikan lifestyle orang barat, mengadopsinya menjadi landasan berperilaku sehari-hari. Maraknya adegan kekerasan dan pornografi menjadi tontonan anak Indonesia, lalu menjadi tuntunan! Alkohol dan narkotika menjadi pelarian dari aneka permasalahan. Orang tua tak pernah mempedulikan, hanya sibuk dengan harta yang dicari. Data dari Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2008 menunjukkan ada sekitar 20 ribu anak-anak terpapar karena mengonsumsi narkoba.
Pertanyaannya, ke mana hak anak Indonesia?
Kepada Para Pemimpin Bangsa
Pemilihan umum yang telah berlangsung untuk memilih wakil-wakil rakyat yang akan duduk di kursi pemerintahan melahirkan harapan baru bagi masyarakat Indonesia. Harapan akan perbaikan dalam segala bidang, baik ekonomi, kesehatan, hukum, pendidikan, termasuk perbaikan dalam menata, melindungi, dan memenuhi hak serta perlindungan terhadap anak bangsa. Menyadari bahwa anak Indonesia adalah “mutiara” bangsa Indonesia, sudah sepantasnyalah jika mereka mendapatkan hak mereka secara utuh.
Masalah pemenuhan hak anak di Indonesia bukan maslaah sepele. Justru ini adalah masalah nasional yang membutuhkan partisipasi semua warga negara. Mengapa demikian? Sebab anak, generasi muda Indonesia, yang kelak akan menggantikan posisi Susilo Bambang Yudhoyono, Boediono, Sri Mulyani Indrawati, Abu Rizal Bakrie, dan lain-lain. Nasib bangsa Indonesia ke depan akan ditentukan oleh bekal yang diberikan pada generasi mudanya, anak Indonesia, di masa kini.
Kepedulian terhadap nasib anak Indonesia akan melahirkan berbagai gagasan dan ide-ide cemerlang di kalangan masyarakat. Dalam hal ini, para wakil rakyat wajib menjalankan kewajiban mereka untuk mendengarkan, menampung, lalu mewujudkan aspirasi masyarakat. Apalagi berkaitan dengan kehidupan anak Indonesia, memang masih banyak yang harus diperbaiki.
Salah satu langkah awal memperbaiki kehidupan dan pemenuhan hak anak Indonesia adalah melakukan pemetaan terhadap masing-masing permasalahan. Pemetaan tersebut berisi hasil studi kasus terhadap kehidupan anak Indonesia serta data-data yang dibutuhkan. Manfaatnya, setiap problem akan nampak jelas sehingga mempermudah pencarian solusi.
Sampai saat ini, masalah pendidikan masih menjadi masalah yang belum terselesaikan secara menyeluruh. Masih banyak anak usia sekolah yang kehilangan hak pendidikan mereka, umumnya karena alasan ekonomi. Adanya program Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (GNOTA) dan berbagai beasiswa dari pemerintah maupun lembaga masyarakat sangat membantu mengatasi kesulitan biaya sekolah. Namun satu catatan, masih ada pemisah pemenuhan hak anak atas pendidikan, tepatnya kualitas pendidikan, yakni belum ada pemerataan di Indonesia. Coba bandingkan kualitas pendidikan anak di desa dan kota! Tentu sangat berbeda bukan? Faktor geografis memang berpengaruh, namun hendaknya tidak menjadi kendala dalam pemerataan kualitas pendidikan. Pemenuhan hak pendidikan anak Indonesia secara maksimal, adil, dan merata, inilah yang diharapkan bangsa Indonesia. Demikian juga dengan kesehatan. Penyediaan air bersih, obat-obatan, fasilitas pelayanan kesehatan yang memadai, dan penyuluhan kepada para orang tua tentang kesehatan anak akan sangat membantu memperbaiki kesehatan anak Indonesia.
Kehidupan dalam berbangsa dan bernegara didasari oleh Pancasila yang bentuk-bentuk pelaksanaannya dituangkan secara fleksibel dalam UUD 1945. Demikian pula tentang pemenuhan hak anak Indonesia. Pasal 28C UUD 1945 memberikan dasar yang jelas bahwa anak harus diberi ruang lingkup untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas diri. Saat ini, khususnya di kota-kota besar, banyak sekali didirikan lembaga yang menjadi wadah pengembangan bakat anak Indonesia, misalnya: sanggar-sanggar kesenian, arena pengembangan bakat, ditambah berbagai kompetisi dalam berbagai bidang baik sains, jurnalistik, teknologi, kesenian, maupun olahraga. Semua upaya ini patut diacungi jempol karena memiliki manfaat yang besar. Mengetahui bakat yang dimiliki, anak Indonesia dapat termotivasi untuk senantiasa belajar dan berlatih. Namun PR pemerintah, excellent program ini harus menjamah setiap sudut rumah anak Indonesia.
Selain ruang gerak untuk mengembangkan diri, anak Indonesia juga harus mendapatkan ruang bermain mereka. Salah satu masa indah dalam masa kanak-kanak adalah bermain bersama teman-temannya. Sungguh keterlaluan bila ada orang tua yang tega merampas waktu anak-anak mereka, apalagi untuk menjadi pekerja kasar di usia yang masih sangat dini. Pemberian waktu untuk bermain serta bersosialisasi yang didukung dengan penyediaan tempat bermain yang sehat akan menjadi salah satu sarana penyeimbang otak kanan dan otak kiri anak Indonesia.
Selanjutnya, kontrol. Emosi yang labil, keinginan untuk berpetualang dan mencari jati diri menjadikan anak Indonesia kadang terbuai oleh kilau semu zaman. Berbagai kemudahan yang disediakan justru menjadi bumerang. Krisis moral yang menjadi salah satu masalah serius kehidupan anak Indonesia juga harus diselesaikan oleh semua pihak. Dalam hal ini, program peningkatan iman dan takwa diperlukan guna membentengi mereka dari arus negatif globalisasi yang kian deras. Pelaksanaan berbagai training Emotional and Spiritual Quotient (ESQ) penting untuk membentuk kepribadian anak Indonesia yang cerdas dan religius. Pengenalan akan rasa nasionalisme dan cinta tanah air serta kebudayaan Indonesia akan membentuk pribadi anak Indonesia yang santun dan patriotis. Pemerintah perlu memperhatikan hal ini serta turut mengontrol perkembangan anak Indonesia, tentu bekerja sama dengan masyarakat dan lembaga, khususnya lembaga pendidikan.
Stop perdagangan anak!
Maraknya kasus-kasus perdagangan anak baik di dalam negeri maupun di luar negeri merupakan tindak kejahatan yang harus diberantas sampai ke akarnya. Penculikan anak untuk dijual maupun dipekerjakan juga menjadi tantangan bagi bangsa Indonesia. Bahkan tindakan mempekerjakan anak di bawah umur sudah termasuk menjual anak, karena didorong rasa materialistis. Berbagai upaya telah dilakukan untuk membersihkan kejahatan ini. Pihak kepolisian bekerja keras menangkap para pelaku penjualan anak dan hukum pun sepatutnya bertindak tegas mengadili kejahatan yang dilakukan. Masyarakat pun dapat turut serta memberantas kejahatan penjualan anak dengan cara melaporkan kejahatan yang mereka temukan di lingkungan mereka. Di samping itu, kesadaran individu juga mutlak berpengaruh pada perilaku orang tua terhadap anak.
Sebagai bangsa yang hidup di tengah-tengah bangsa lain dan tidak dapat hidup sendiri, bangsa Indonesia mmembutuhkan kerja sama dengan bangsa lain untuk menangani permasalahan yang menimpa. Dalam hal pemenuhan hak anak, Indonesia sudah bekerja sama dengan berbagai pihak, salah satunya adalah dengan lembaga Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) yang khusus menangani kesejahteraan anak, yakni United Nations International Children's Emergency Fund (UNICEF). Bantuan yang diberikan UNICEF pada bangsa Indonesia sangat membantu memperbaiki kualitas anak Indonesia. Kerja sama itu harus senantiasa ditingkatkan baik dalam bidang pendidikan, kesehatan, pembentukan kepribadian anak, pemenuhan hak dan ruang gerak anak, serta pemberantasan kejahatan terhadap anak, baik penjualan anak maupun eksploitasi yang berlebihan.
Uraian tentang permasalahan anak Indonesia dan saran penyelesaiannya dapat dilihat pada diagram berikut.
Diagram Problematika Anak Indonesia dan Penyelesaiannnya
Pada akhirnya, wakil-wakil rakyat yang duduk di kursi pemerintahan memegang peran penting dalam pemenuhan hak anak Indonesia. Berbagai kebijakan harus ditempuh, dilaksanakan dengan dukungan rakyat. Kesejahteraan anak adalah kesejahteraan bangsa, karena anak Indonesia yang kelak mengantarkan bangsa tercinta menuju gerbang kemakmuran serta kesejajaran dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
Bersama penuhi hak anak Indonesia!
Bersama sejahterakan anak Indonesia!
‘Kutulis dengan hatiku untuk Anak Indonesia
PUSTAKA
Supeno, Hadi. . Sudahkah Anak Indonesia Memperoleh Kemerdekaan?
. . Profil Pendidikan dan Kesehatan Anak Indonesia. Diakses pada September 2009 dari http://andi.stk31.com/profil-pendidikan-dan-kesehatan-anak-indonesia.html
Posted by Amalia's Blog at 12:55 AM 0 comments
Labels: MY WORLD
